Sunday, 27 November 2011

Randai Kuantan Singingi

Gesekan Piual—Biola, hentakan pukulan Gondang dan tiupan lapri (Serunai), diiringi langkah tari merupsakan ciri khas tersendiri dari Randai Kuantan. Salah satu bentuk kesenian rakyat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi. Randai Kuantan merupakan kesenian rakyat yang komunikatif, lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Kuantan. Randai Kuantan membawakan suatu cerita yang sudah disusun sedemikian rupa dengan dialog dan pantun logat Melayu Kuantan, disertai lagu-lagu Melayu Kuantan sebagai paningkah babak-babak cerita.

Memang suatu pertunjukan kesenia rakyat yang membuat kita pun ingin ikut bergoyang melihatnya, bahkan mengelitik hati. Tak urung gelak tawa pun akan keluar dengan seketika. Cerita yang dibawakan biasanya sudah melekat di hati orang Rantau Kuantan, sehingga randai sudah begitu akrab di tengah-tengah masyarakat.

Tak di ketahui secara pasti, kapan randai mulai ada di daerah ini. Tetapi apabila menilik dari sejarah, maka randai ini telah ada semenjak zaman penjajahan Belanda dulu. Randai di pergerlarkan dalam acara pesta perkawinan, sunatan, doa padang, kenduri kampung dan acara lainnya yagn di anggap perlu untuk menampilkan Randai.

Biasnya dilaksanakan pada malam hari, memakan waktu 2 hingga 4 jam. Disinilah orang sekampung mendapat hiburan dan bisa bertemu dengan kawan-kawan dari lain desa.
Berhasilnya sebuah pertunjukan tidak terlepas dari peran serta pemain, pemusik dan penontonnya. Untuk sebuayh ceriata yang akan dibawakan biasanya memakan waktu latihan sekitar satu bulan atau lebih. Memang waktu latihannya tidak setiap hari, rutinnya hanya pada malam Ahad.

Tetapi apabila akan mengadakan pertunjukan maka waktu latihannya akan ditambah sesuai dengan kesepakatan bersama. Dengan jumlah anggota 15 sampai 30 orang untuk satu tim randai, terdiri dari penari, pemusik, dan tokoh dalam cerita. Jumlah tokoh tergantung cerita yang dibawakan. Biasanya jumlah pemusik tetap. Satu Piual, 2-3 gendang, satu peniup lapri.
Keunikan randai memang mempunyai daya tarik tersendiri dibandingkan denga kesenia rakyat lainnya yang hidup di Rantau Kuantan. Antara lain adalah, adanya tokoh wanita di perankan oleh laki-laki yang berpakaian wanita, dan sindiran-sindiran terhadap pejabat dalam bentuk pantun.
Tokoh wanita yang diperankan laki-laki ini dimaksudkan untuk menjaga adat dan norma-norma Agama. Karena latihan pada malam hari dan pertunjukan juga pada malam hari, sehingga kalau ada anak dara yang tampil ini merupakan suatu yang tabu bagi masyarakat. Selain itu juga untuk menjaga supaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Sewaktu pementasan para Anak Randai membentuk lingkaran dan menari sambil mengelilingi lingkaran, sehingga pemain tidask berkesan berserakan dan terlihat rapi. Menyaksikan Randai Kuantan kita akan terbuai dan merasakan suasana kehidupan desa. Bermain, kebun karet, bergurau, bersorak sorai serta berbincang, tentu dengan lidah pelat Melayu Kuantan. Sehingga perantau yang pulang kampung ke Rantau Kuantan tak pernah melawatkan pertunjukan ini.
Untuk menyaksikan pertunjukan Randai Kuantan bukanlah hal yang sulit, karena Randai Kuantan sampai saat ini tetap banyak didapatkan di Rantau Kuantan, bahkan pada saat ini hampir setiap desa mempunyai kelompok randai.

Sebuah kelompok Randai juga mempunyai sutradara yang mengatur jalan cerita sebuah pertunjukan randai. Sutradara atau peramu cerita harus mempunyai wawasan yang luas terutama dalam hal pengembangan dialog dan pantun. Tidak hanya itu, dia sedikit banyak juga harus mengerti tentang peralatan alat musik yang digunakan. Disinilah sutrada dituntut untuk menampilkan yang terbaik. Sehingga penonton tidak merasa bosan dengan alur ceritanya.
Peran pemerintah untuk melastarikan kesenian tradisonal Kuantan ini memang ada. Terbukti dengan diperlombakannya kesenian ini pada setiap Festival Pacu Jalur di Teluk Kuantan. Disinilah mereka bisa menguji kemampuan kelompoknya untuk menjadi yang terbaik. selain itu pada Festival Budaya melayu (FBM) 1997 di Pekanbaru, randai juga diikutsertakan mewakili kontingen Inderagiri Hulu—sebelum mekar menjadi Kuantan Singngi.

Masyarakat Rantau kuantan sering kali mengadakan hajatan dengan mengundang sebuah kelompok Randai. dengan demikian mereka tidak merasa jenuh dengan latihan saja, mereka juga akan mandapat masukan berupa uang lelah sebagai ucapan terima kasih. Peran masyarakat setempatlah yang sebenarnya paling dominan. sehingga Randai Kuantan tetap melekat dihati masyarakat.


Contoh Lirik Lagu Randai:
Tinggi la Bukik si Batu Rijal
Tompek Batanam Si Sudu-sudu
Abang Kan Poi Adiak Kan Tinggal
Bajawek Solam Kito dahulu

Itulah sala satu pantun dalam Randai Kuantan yang bercerita tentang Ali Baba dan Fatimah Kayo. Cerita ini mengisahkan perjalanan hidup sepasang suami istri yang hidup di Kampung Kopah Teluk Kuantan.

Saat ini Randai Kuantan masih tetap eksis, malah telah samapai ke manca negara, dan punggawai oleh Fakhri Semekot dan kawan-kawan.

Sumber: Sungai Kuantan

Wednesday, 16 November 2011

Cinta Anak IT

Puisi Cinta karya Dwhie Mutiarha Kasih
Dalam 1 folder, 1 file, dan 1 document…
Begitulah dulu cintamu padaku…
Sekarang kau cut hatiku..
Kau buat New Folder, New File, dan New Doc...
Kau format hatimu untuk hati yang lain..
Kau delete aku dari memorimu....
Kau tampilkan wallpaper baru..
dengan theme yang indah dan menarik...

tak mungkin ku undo kisah yang lalu..
karena kau telah men-save nya dihatimu,,,
saatnya aku edit hidupku..
yang bloom dan contrast agar indah kembali...

terima kasih dulu kau telah mendownload hatiku...
walaupun sekarang kau mengupload dia yang lain...
selamat atas program cintamu yang succes..
dan aku terluka....
Akan menganalisa dan mendesign cinta yang baru...

Sunday, 13 November 2011

Legenda Batang Tuaka (Indragiri Hilir)

Kabupaten Indragiri Hilir masuk dalam wilayah Provinsi Riau, Indonesia, dan dijuluki sebagai “Negeri Seribu Parit”. Di daerah ini rawa-rawa terhampar luas dan sungai-sungai terbentang hampir keseluruh wilayah kecamatan. Sungai terbesar di daerah ini adalah Sungai Indragiri yang berhulu di Pegunungan Bukit Barisan (Sumatera Barat) dan bermuara di Selat Berhala, sedangkan sungai-sungai lainnya hanya merupakan anak sungai dari Sungai Indragiri.  Salah satu anak sungai yang sangat terkenal di Indragiri Hilir adalah Sungai Batang Tuaka yang berada di Kecamatan Batang Tuaka. 

Konon, nama “Sungai Batang Tuaka” diambil dari sebuah cerita legenda yang populer di kalangan masyarakat Indragiri Hilir. Legenda tersebut mengisahkan tentang seorang anak yang durhaka kepada emaknya, sehingga Tuhan menghukum anak itu karena kedurhakaannya. Siapakah anak durhaka itu? Bagaimana anak itu durhaka kepada emaknya? Hukuman apa yang Tuhan berikan padanya? Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ikuti kisahnya dalam Legenda Batang Tuaka. Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Indragiri, Riau, Indonesia, hiduplah seorang janda tua bersama anak laki-lakinya bernama Tuaka. Mereka hidup berdua disebuah gubuk yang terletak dimuara sebuah sungai (tepatnya di muara sungai Indragiri Hilir). Mereka tak punya sanak-saudara dan harta sedikitpun. Meskipun hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk hidup sehari-hari Tuaka membantu emaknya mengumpulkan kayu api dari hutan-hutan disekitar tempat tinggal mereka. Ayah Tuaka sudah lama meninggal dunia, dengan demikian emaknya harus bekerja keras menghidupi dirinya dan anak laki-lakinya, Tuaka.


Suatu hari, Tuaka bersama emaknya pergi ke hutan disekitar sungai. Mereka mencari kayu api untuk dijual dan untuk memasak sehari-hari. Setelah memperoleh kayu api cukup banyak, mereka berdua akhirnya pulang. “Mak, kalau Emak lelah biarlah Tuaka saja yang menggendong kayu apinya”, kata Tuaka saat melihat emaknya kelelahan. “Tak apa, Tuaka. Emak masih kuat. Lagi pula, kayu bakar yang ada padamu juga banyak,” jawab Emak Tuaka sambil melanjutkan langkahnya.
Ditengah perjalanan pulang, Tuaka dan emaknya dikejutkan oleh suara desisan yang cukup keras. “Mak! Suara apa itu?”, tanya Tuaka pada emaknya. “Sepertinya itu suara ular berdesis”, jawab emaknya. Ternyata benar, tak jauh dari mereka, dari arah tebing sungai tampak dua ekor ular besar sedang bertarung. Tampaknya mereka sedang memperebutkan sebuah benda. “Tuaka sembunyilah. Ada ular besar yang sedang berkelahi”, perintah Emak Tuaka. Tuaka dan emaknya segera berlindung di balik sebuah pohon yang cukup besar. Dari balik pohon itu, Tuaka dan emaknya terus menyaksikan dua ekor ular itu saling bergumul dan belit-membelit. “Apa yang mereka perebutkan, Mak?”, tanya Tuaka. “Mak juga tak tahu! Diamlah Tuaka, nanti mereka mengetahui keberadaan kita”, jawab Emak Tuaka dengan suara berbisik. Tak lama kemudian, perkelahian kedua ekor ular tersebut akhirnya usai. Tuaka dan emaknya keluar dari balik pohon, lalu mendekat ke tempat kejadian itu. Mereka mendapati salah satu ular sudah mati, sedangkan ular lainnya terluka. Ular yang terluka itu menggigit sebuah benda berkilau, yang ternyata adalah sebutir permata (kemala) yang sangat indah. Ular itu tampak kesakitan oleh luka-lukanya. “Mak, kasihan ular yang terluka itu. Mari kita tolong”, kata Tuaka kepada emaknya dengan nada mengajak. “Ya, mari kita bawa pulang, supaya kita bias obati di rumah”, jawab Emak Tuaka. Tuaka memasukkan ular itu kedalam keranjang yang dibawa emaknya, lalu memanggulnya pulang. Sampai di rumah, Emak Tuaka segera mencari daun-daunan yang berkhasiat, menumbuknya, lalu membubuhkannya pada luka-luka di tubuh ular itu, sedangkan Tuak sibuk minum air sejuk.

Beberapa hari kemudian, ular yang sudah mulau sembuh itu tiba-tiba hilang dari keranjang. Permata yang selalu dia lindungi di dalam lingkaran badannya ditinggalkan di dalam keranjang. Tuaka dan emaknya terheran-heran, lalu mereka mengamati permata itu dengan kagum. “Mengapa ular itu meninggalkan permatanya, Mak?” tanya Tuaka kepada emaknya. “Barangkali dia ingin berterima kasih kepada kita, karena kita sudah menolongnya. Sebaiknya kita jual saja permata ini kepada saudagar. Uangnya kita gunakan untuk berdagang supaya kita tidak hidup miskin lagi”, jawab Emak Tuaka penuh rasa syukur. Tuaka pun setuju dengan tawaran emakanya.Keesokan harinya, Tuaka pergi ke Bandar yang ramai dengan  para saudagar. Sesampai di Bandar, Tuaka berkeliling kesana-kemari mencari saudagar yang berani membeli permatanya dengan harga yang tinggi. Hampir semua saudagar di Bandar itu ia tawarkan, namun tak ada yang berani membelinya. Tuaka pun mulaii putus asa. Tuaka berniat membawa pulang permata itu kepada emaknya.

Namun, ketika sampai di ujung Bandar, tiba-tiba ia melihat seorang saudagar yang sepertinya belum ia tawarkan. Tuaka menghampiri saudagar itu, kemudian menawarkan permatanya dengan harga yang tinggi. Tampaknya, saudagar itu sangat tertarik setelah mengamati permata berkilau itu. “Aduhai elok sangat batu permata ini! Aku sangat ingin memilikinya. Harga yang kau tawarkan itu memang tinggi, tapi aku tetap akan membelinya”, kata sang Saudagar. Kalau begitu, apa lagi yang Tuan tunggu? Tuan hanya tinggal membayarnya”, desak Tuaka dengan hati berdebar karena bahagia. “Uang yang aku bawa tak cukup, Nak! Jika kamu mau, kamu boleh ikut dengan ku ke Temasik untuk mengambil kekurangannya”, kata sang saudagar. Tuaka tampak termenung sejenak memikirkan tawaran sang Saudagar. “Ehm, baiklah Tuan. Saya nak ikut Tuan ke Temasik”, jawab Tuaka. Setelah itu, Tuaka pulang kerumahnya untuk menceritakan masalah ini pada emaknya. Akhirnya, Emak Tuaka mengizinkannya berangkat ke Temasik (Singapura). Tuaka dan saudagar kaya itu berlayar menuju temasik. Sepanjang perjalanan, Tuaka tak henti-hentinya membayangkan betapa banyak uang yang akan diperolehnya nanti.Setibanya di Temasik, sang saudagar membayar uang pembelian permata kepada Tuaka. Karena uang yang berlimpah tersebut, Tuaka lupa kepada ibu dan kampong halamannya. Dia menetap di Temasik. Beberapa tahun kemudian dia telah menjadi saudagar kaya. Dia menikah dengan seorang gadis elok rupawan. Rumah Tuaka sangat lah megah, kapalnya pun banyak. Hidupnya bergelimang dengan kemewahan. Dia tidak lagi peduli emaknya yang miskin dan hidup sendirian, entah makan entah tidak. Suatu ketika, Tuaka mengajak istrinya berlayar. Kapal megah Tuaka berlabuh di kampung Tuaka. Sebenarnya Tuaka masih ingat dengan kampung halaman tersebut. Akan tetapi, rupanya dia enggan menceritakan kepada istrinya bahwa di kampung yang mereka singgahi tersebut emaknya masih hidup di sebuah gubuk tua. Dia tak mau istrinya mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang wanita yang sudah tua-renta miskin.

Sementara itu , berita kedatangan Tuaka terdengar pula oleh emaknya. Emaknya bergegas menyongsong kedatangan anak lelakinya yang bertahun-tahun tak terdengar kabar beritanya tersebut. Karena rindu tak terbendung ingin bertemu anaknya, Emak Tuaka pun bersampan mendekati kapal megah Tuaka. “Tuaka anakku. Emak sangat merindukanmu, Nak!” teriak Emak Tuaka saat melihat Tuaka dan istrinya di atas kapal megah itu, “Siapa gerangan wanita tua itu, Kakanda? Mengapa dia menyebut Kakanda sebagai anaknya?” tanya istri Tuaka dengan wajah tidak senang.Tuaka terkejut buka kepalang melihat emaknya di atas sampan berteriak memanggilnya. Dia tahu wanita dengan pakaian compang-camping itu memang emaknya, tetapi dia tak sudi mengakuinya. Dia sangat malu pada istrinya. “Hei, jauhkan wanita miskin itu dari kapalku. Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai emakku”, teriak Tuaka dari atas kapal. “Ya, usir dia jauh-jauh dari sini”, tambah istri Tuaka sambil bertolak pinggang. Mendengar perintah dari tuannya, anak buah Tuaka segera mengusir wanita miskin nan malang itu menjauh dari kapal. Emak Tuaka sangat bersedih. Sambil menangis dia bersampan menjauhi kapal Tuaka. “Oh, Tuhan. Ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia peringatan agar menyadari kesalahannya”, ratap emak Tuaka.

Rupanya Tuhan mendengar doa Emak Tuaka. Sesaat setelah doa Emak Tuaka terucap, tiba-tiba Tuaka berubah menjadi seekor burung elang. Begitu pula istri Tuaka, dia berubah menjadi seekor burung punai. Emak Tuaka sangat terkejut dan sedih melihat anaknya berubah menjadi burung. Walaupun Tuaka telah menyakiti hatinya, sebagai seorang ibu ia sangat mencintai anaknya. Burung elang dan burung punai tersebut terbang berputar-putar di  atas muara sungai sambil menangis. Air mata kedua burung itu menetes, membentuk sungai kecil yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai Tuaka. Kemudian oleh masyarakat setempat mengganti kata “sungai” ke dalam bahasa Melayu menjadi “Batang”, sehingga nama “Sungai Tuaka” berubah menjadi “Batang Tuaka”.

Sejak itu pula, daerah sekitar muara sungai tersebut diberi nama Batang Tuaka yang kini dikenal dengan Kecamatan Batang Tuaka yang masuk wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Indonesia. Masyarakat Melayu Indragiri, baik hilir maupun hulu sungai, meyakini legenda ini benar-benar pernah terjadi pada zaman dahulu kala sekitar muara Sungai Indragiri. Jika ada suara jerit elang berkulik pada siang hari sekitar muara Sungai Tuaka, masyarakat setempat meyakini bahwa suara burung tersebut sebagai penjelamaan Tuaka yang menjerit memohon ampun kepada emaknya.

Sumber: Adien.2008.Cerita Rakyat Riau.Bandung: Sinergi Pustaka Indonesia

Wednesday, 9 November 2011

Bintang dan Rasi Bintang

Klik untuk memperbesar dan mengcopy gambar
Saya ingin memberi sedikit pengetahuan saya kepada sobat semua tentang bintang dan rasi bintang. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa lukisan malam sang pencipta sangatlah indah, dengan hamparan bintang-gemintang di langit malam yang gelap. Bintang adalah benda langit yang memancarkan sinarnya sendiri. Sifat tersebut yang membedakan bintang dengan planet. Sekumpulan bintang yang apabila digabung-gabungkan akan mempunyai bentuk tertentu disebut rasi bintang. Ilmu untuk menyelidiki cakrawala (bintang-bintang dilangit) disebut Astronomi.

Bintang-bintang yang tampak apada malam hari adalah benda yang tidak jauh berbeda dengan matahari, karena jaraknya jauh cahayanya lemah dan tampak kecil. Matahari juga sebuah bintang. Bintang yang terdekat dengan bumi kita. Banyak bintang yang lebih besar dari matahari, dan juga yang lebih kecil. Bintang nampak kecil karena amat jauh dari kita. Bintang-bintang tempatnya yang satu terhadap yang lain tampak tak berubah. Rasi Bintang diberi nama untuk memudahkan pengenalannya.



Gubug Penceng, merupakan segugus bintang yang terdiri dari empat buah bintang yang menyusun gugus tertentu bentuknya menyerupai dangau (gubug) dan letaknya condong (penceng). Rasi bintang gubug penceng disebut juga Rasi Bintang Pari. Rasi bintang ini dijadikan pedoman arah selatan.
Rasi bintang Waluku (orion), merupakan rasi bintang yang lain, dan dapat dipergunakan untuk pedoman menunjukkan arah barat. 
Disebelah tenggara tampak bintang-bintang yang berkelompok membentuk gambar kalajengking, disebut rasi bintang kalajengking (scorpion)
Disebelah utara kadang-kadang terlihat rasi bintang Biduk atau rasi bintang beruang besar.
Demikianlah pengetahuan saya  tentang bintang dan rasi bintang. Semoga Bermanfaat..!!

Sunday, 6 November 2011

Misteri Punahnya Dinosaurus

Ketika jatuhnya sebuah asteroid raksasa ke bumi sekitar 65 tahun lalu. Menurut teori Alvarez, Buuuumm!!!!! Seketika bumi tertutup awan, asap dan debu yang hitam dan tebal. Suasana menjadi gelap dan dingin. Sinar matahari tidak dapat menerobos. Keadaan itu berlangsung selama berbulan-bulan. Akibatnya, tumbuhan di darat maupun di laut banyak yang mati.

Gas-gas kimia dari debu asteroid menyebabkan hujan asam yang membuat polusi di laut, sungai dan danau. Makhluk hidup yang mati bertambah banyak, salah satunya Dinosaurus!. Makhluk hidup itu mati karena terbakar api asteroid, kelaparan, keracunan dan badai. Bencana asteroid ini terjadi pada akhir zaman Cretaceous di Yucatan Peninsula, Meksiko. Teori ini di ungkapkan oleh Walter Alvarez sekitar tahun 1970.

Ada teori lain tentang punahnya Dinosaurus. Sekitar akhir zaman cretaceous, terjadi perubahan alam. Aktifitas gunung berapi meningkat, kutub menjadi lebih dingin, iklim dan suhu berubah, keadaan bumi semakin kering, dan lain-lain. Perubahan alam ini mengharuskan setiap makhluk hidup untuk beradaptasi . Jika tidak bisa, berarti punah!. Dinosaurus salah satunya


Selain alam, Dinosaurus juga berhadapan dengan persaingan, Dinosaurus harus bersaing melawan mamalia, terutama dalam mencari makan. Mamalia zaman dulu suka memakan telur-telur Dinosaurus! Wah…pantas saja, Dinosaurus punah dan giliran mamalia yang banyak hidup di bumi.

-----------------------------------------
Apabila tulisan di atas bermanfaat.
Silahkan download..!

Thursday, 3 November 2011

Ku Tak Mampu Membuktikan Cinta

Puisi Cinta karya Iva Mairisti
ku tak mampu membuktikan cinta...
terkadang sikap memang dingin,,
siapa tahu tentang hatiku,,,
terkadang senyum memang indah,,
tetapi siapa tahu tentang arti senyum itu,,,

ku tak mampu membuktikan cinta,,,
dalam ucap terangkai makna..
dalam kata terikat ketulusan...
ingin ku artikan apa yang tersirat,,
apa yang terpendam,,,
apa yang ku maksud,,,
dan apa yang ku harap,,,

ku tak mampu membuktikan cinta,,,
hanya mampu berucap kata,,
kadang menimbulkan keraguan,,,
aku mengharap akan kepercayaan,,
namun apa daya,,,ku tak mampu membuktikan cinta,