Home » » Pelita itu adalah Mereka (Pendidik)
Monday, 30 July 2012

Pelita itu adalah Mereka (Pendidik)

Posted by Mungkin Blog on Monday, 30 July 2012

Masih teringat saat itu, ketika rumah kami hanya terbuat dari kayu dan papan. Berdiri tegak ditengah-tengah perkebunan, atau mungkin bisa disebut hutan. Rumah dinas itu terletak tepat didepan sebuah sekolah dasar, tempat dimana kedua orang tua saya mengabdi sebagai pendidik. Hanya kicauan burung dan desiran angin laut yang menyadarkan lamunan saya saat itu. Tidak ada yang dapat saya lakukan, karena saya hanya seorang anak ingusan yang masih berumur 7 tahun.

Saat itu merupakan saat dimana Ayah dan Ibu saya memutuskan untuk mengabdi kepada negara dengan menjadi pendidik disebuah Sekolah Dasar. Sekolah Dasar itu terletak disebuah desa terpencil. Desa ini hanya bisa ditempuh melalui jalur air. Dapat saya kronologikan bagaimana terpencilnya daerah tersebut.  Diawali dari sebuah kota bernama Tembilahan, Riau yang berjarak sekitar 200 km dari Kota Pekanbaru, Riau. Untuk menuju desa tersebut, sebelumnya kita harus bertolak menuju sebuah pulau dengan speedboat dan pulau itu bernama Pulau Kijang. Disana terdapat sungai luas yang memiliki banyak anak sungai dan biasa disebut parit. Nah, tempat kami tinggal adalah salah satu dari parit-parit tersebut yaitu Parit Parman.

Saya pun tidak tahu apa yang telah terjadi, hingga kami dicampakkan begitu jauh dari kampung halaman kami yaitu Teluk Kuantan, Riau. Saat itu hanya perkebunan kelapa dan pohon nipah yang terlihat disekitar rumah. Mungkin saya termasuk salah seorang anak yang tidak tahu dunia luar, pada saat itu. Tidak ada jaringan telpon seluler bahkan televisi. Hanya radio yang menjadi teman dan pusat informasi yang kami miliki. Demikianlah tekad kedua orang tua saya untuk menjadi pendidik.

Terlahir dari keluarga berpendidikan merupakan suatu anugerah terbesar yang pernah saya miliki. Keputusan menjadi seorang pendidik telah dipastikan menjadi keputusan final oleh kedua orang tua saya. Saya pun tidak ingat persis tahun berapa kejadian tersebut, mungkin diperkirakan sekitar tahun 1990-an. Menjadi seorang pendidik dengan gaji yang tidak seberapa dan tempat tinggal yang jauh dari keramaian. Saat itu hanya terdapat 3 orang tenaga pendidik di Sekolah Dasar di desa tersebut yaitu Ayah, Ibu dan seorang teman mereka.

Keadaan Sekolah Dasar itu memang tragis. Hanya terdapat tiga ruangan di sekolah tersebut. Bagaimana bisa? Sekolah Dasar terdiri dari 6 kelas kan? Ya, tentu saja bisa. Dalam sebuah ruangan, di sekat dengan sehelai tirai agar ruangan tersebut terbagi menjadi 2 kelas. Sehingga dengan demikian, seorang guru dapat mengajar murid-murid, dua kelas secara bergantian dalam satu hari. Miris memang keadaan ini, tetapi memang itulah kenyataan yang sedang terjadi saat itu. Ayah merupakan seorang guru sekaligus kepala sekolah disana. Muridnya pun tidak begitu banyak.

Mendengar beberapa cerita dari pengorbanan kedua orang tua saya tersebut, tergugah pula hati saya untuk menjadi seorang pendidik. Sehingga saat ini saya menuntut ilmu disebuah perguruan tinggi swasta di Pekanbaru, Riau yaitu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Hanya dengan cara ini saya dapat mengabdi kepada negara seperti yang telah dilakukan oleh kedua orang tua saya. Mereka adalah motivasi terbesar untuk saya dan merupakan panutan bagi saya untuk menjadi seorang pendidik yang profesional. Sebelumnya kedua orang tua saya pernah menyampaikan beberapa pengetahuan penting yang harus diketahui jika saya ingin menjadi seorang pendidik. Nah...dalam postingan ini, saya ingin berbagi mengenai beberapa pengetahuan tersebut kepada sobat Mungkin Blog. Mungkin dapat menjadi motivasi atau pengetahuan baru bagi sobat semua.
  • Pendidik tidak sama dengan Pengajar
Pendidik tidaklah sama dengan pengajar. Seoarang pengajar belum pasti adalah seorang pendidik, sedangkan pendidik sudah pasti berperan pula sebagai pengajar. Perbedaannya terdapat pada perannya. Seorang pendidik berperan memberikan pengajaran kepada anak didik serta menuntun perkembangan moral dan tingkah laku anak didiknya. Sedangkan seorang pengajar hanya berperan sebagai seseorang yang mengajarkan suatu materi terhadap anak didiknya tanpa menuntun perkembangan moral dan tingkah laku anak didik tersebut.
  • Pendidik adalah Sebuah Profesi
Menjadi seorang pendidik adalah termasuk sebuah profesi. Tidak sembarang orang yang mampu menjadi pendidik. Dibutuhkan keahlian khusus untuk menjadi seorang pendidik profesional. Ilmu saja tidak cukup sebagai modal awal, dibutuhkan pula beberapa keahlian dan trik-trik khusus. Tidak akan sampai sebuah tujuan pengajaran jika metode atau model pembelajaran tidak tepat dan tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, seorang pendidik juga harus berpendidikan. Dibutuhkan berbagai pengalamanan dan ilmu yang banyak untuk menjadi seorang pendidik. Berbagai cara dapat dilakukan, diantaranya studi banding, pelatihan hingga mengikuti perkuliahan. Dan yang terpenting adalah meraih gelar sarjana saja tidak cukup, apabila tidak mengantongi ilmu yang diperoleh dari gelar sarjana tersebut.

Pelatihan Guru SD Terpencil (Ayah No.3 dari kiri)
Untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, akhirnya kedua orang tua saya diberikan tugas belajar oleh pemerintah setempat. Bertahun-tahun telah kami tempuh bersama di desa tersebut, dan kini tiba saatnya untuk pergi menuntut ilmu agar menjadi pendidik yang lebih profesional. Momen ini terjadi sekitar tahun 2000-an. Sehingga seluruh keluarga saya dipindahkan ke Pekanbaru, Riau demi meraih pendidikan yang lebih baik. Ini hanya sementara, hingga saat gelar sarjana berhasil diraih dan bekal ilmu telah bertambah. 

Studi Banding (Ibu) di Bandung
  • Pengorbanan adalah Modal Awal
Pengorbanan adalah modal awal untuk menjadi seorang pendidik.  Mengorbankan diri dan waktu untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman merupakan suatau keharusan. Walau diawali dengan pengalaman pahit dan pengorbanan yang begitu berat. Namun kita harus yakin bahwa dibalik suatu pengorbanan akan mendapatkan suatu hasil yang sama besarnya dengan pengorbanan yang telah kita lakukan. Menjadi guru honor adalah pengorbanan awal. Saat Surat Keputusan (SK) dikeluarkan pemerintah dan ternyata ditempatkan menjadi pendidik disebuah desa terpencil juga merupakan suatu pengorbanan. Ketika gaji yang diperoleh tidak seberapa, itu juga merupakan suatu pengorbanan. Sobat tahu sendirikan bagaimana penghasilan seorang pendidik?
  •  Pendidik merupakan Akar dari segala Profesi
Memutuskan menjadi penidik adalah suatu keputusan yang tidak main-main. Pendidikan dan moral anak-anak bangsa bergantung ditangan kita sebagai pendidik. Bagaimana pun juga, peran seorang pendidik adalah akar dari seluruh profesi. Dokter, pengusaha, pilot, politikus dan profesi lainnya tidak akan dapat diraih oleh seseorang jika tidak berawal dari dunia pendidikan. Tidakkah kita sadar bahwa seorang pendidik adalah pahlawan bangsa? Coba sobat bayangkan jika tidak ada pendidik dinegara ini. Apakah masih akan ada profesi lainnya seperti yang saya jelaskan diatas? Demikianlah begitu besarnya peran seorang pendidik bagi bangsa dan negara ini. Profesi sebagai pendidik adalah profesi yang mulia. Pendidik bagaikan penerang dalam kegelapan hidup ini, seperti syair lagu berikut:

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu 
Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Demikianlah syair lagu, yang selalu kita nyanyikan disaat perpisahan kelulusan sekolah. Tetesan air mata selalu mengiringi lagu tersebut sebagai ucapan perpisahan kepada "orang tua kedua". 

Begitulah segelintir kisah dan pesan yang beliau sampaikan kepada saya yang masih berperan sebagai seorang calon guru. Saat ini kedua orang tua saya telah berhasil meraih pendidikan yang lebih baik. Gelar sarjana telah dibebankan ke pundak mereka. Tanggung jawab baru pun mulai di pikul yaitu tetap menjadi seorang pendidik di sebuah sekolah dasar. Memang tidak lagi di daerah terpencil tersebut, melainkan telah dipindahkan ke daerah sekitar Kota Tembilahan, Riau. Hingga saat ini, mereka masih mengabdi dan berprofesi sebagai pendidik. Memang tidak menjadi manusia yang bergelimangan harta, namun setidaknya profesi ini memberikan kecukupan bagi keluarga kami. Dan kami sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan kesempatan dan berkah yang luar biasa ini. Semua ini tidak berawal dengan mulus, karena meraih suatu cita-cita butuh usaha, berdo'a, dan kerja keras.

Di mata saya, kebanggaan adalah suatu hal yang saya miliki sebagai seorang anak dari mereka. Mereka merupakan orang tua saya yang telah membesarkan saya sejak saya lahir. Mereka pula adalah pendidik saya di saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Pahlawan bagi bangsa, pahlawan pula bagi hidup saya. Jika saja tidak ada pendidik, entah apa yang akan terjadi pada bangsa ini. Gelap gulita bagaikan malam tanpa bulan dan bintang. Hanya seberkas cahaya pelita yang dapat meneranginya. Pelita itu adalah mereka yang berperan sebagai pendidik. Salah satu diantara pelita (pendidik) itu adalah Ayah dan Ibu tercinta.

Pekanbaru, 30 Juli 2012


 Tulisan ini diikutsertakan dalam:

Lomba Blog Sampoerna School of Education“Menjadi Pendidik”

Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

6 komentar:

  1. Hadir disini menyapa sobat ketika senja mulai tiba,tetap semangat sobatku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sobat, makasih ya semangat nya...
      >_<

      Delete
  2. pahlawan tanpa tanda jasa, semoga menjadi amal jariyah

    ReplyDelete