Monday, 5 November 2012

Arti Sebuah Nama

Mana suaranya? Teriak dulu dong..!!!
Aku gak jomblo..!!! Aku gak jomblo..!!!! *mari ulangi bersama-sama*
Aku gak jomblo..!!! Aku gak jomblo..!!!!
Ini sekedar penyemangat buat yang masih jomblo #eh? Udah ah, gak tau mau mukadimah gimana lagi. Langsung aja ke topik pembicaraan.

Jadi liburan hari raya idul adha kemarin saya pulang ke tempat orang tua saya kerja. Kami emang gak pulang ke kampung halaman. Soalnya mama, papa dan adik cuma dapat jatah libur satu hari. Dan dengan senang hati saya yang menemui mereka kesana dan bela-belain gak pulang kampung asal ketemu orang tua.

Nah, inti pembicaraannya adalah tentang “nama”. Yaps, nama adalah sebuah identitas diri yang sangat penting sekali selain identitas kelamin. Tanpa nama, semua urusan jadi ribet. Contohnya disaat sobat mau kenalan sama seseorang.  

“Neng, boleh kenalan gak? Namanya siapa?”
“Boleh bang, tapi saya gak punya nama”

Nahlo, mana ada manusia yang gak punya nama kan? Sedangkan anak yang masih dalam rahim ibunya saja sudah direncanakan untuk diberi nama. Entah itu tukiyem kalau dia cewek atau mujiono kalau dia cowok. Semua orang tua sudah pasti merancang sebuah “nama” untuk anaknya sendiri.

Hubungannya dengan pulang ke tempat orang tua saya tadi yaitu ketika saya memesan tiket travel. Sempat saya bertanya dalam hati “kok nama saya susah banget ya disebut?”. Nama saya Iva Mairisti panggilannya Iva. Sebenarnya gak susah, tapi entah kenapa orang yang dengar gak pernah tepat menuliskan nama saya, gini ceritanya :

*nelpon kantor pemesanan tiket travel buat berangkat* 
“Kak, pesan travel buat besok. Masih ada bangku kosong kan kak?”
“Ada, mau pesan jam berapa atas nama siapa?”
“Jam 2 siang kak, atas nama Iva”
“Atas nama siapa tadi?”
“Iva”
“ooo, iya, bla bla bla bla bla bla”
“bla bla bla”

Proses pemesanan tiket pun berakhir dengan lancar. Selanjutnya proses penjemputan para penumpang oleh supir travel. Kriing kriiing kriiing *hape gue jadul makanya bunyi gitu*, ternyata itu telpon dari supir travel.

“Maaf ini dengan itah yang tinggal di Jalan Swakarya?”
“Bukan, Maaf ini siapa?”
“Ini dari *n** Travel, ini itah yang di Jalan Swakarya kan?” 
*Saya mulai sadar kalau mereka udah salah dengar waktu saya nelpon mesan tiket* 
 “iya, tapi nama saya Iva bukan Itah pak”
“ooaalah, ini salah tulis mungin”
“Iya mungkin pak” 
*akhirnya saya dijemput dan berlalu*

Sebelum-sebelumnya mereka memang tak pernah benar menuliskan nama saya. Bisa saya dokumentasikan sebagai berikut:
Tiket 1, nama saya IPAH
Tiket 2, nama saya IPA
Tiket 3, nama saya ISAH dan Tiket 4, nama saya ITAH
(ini sudah mulai aneh)
Hingga tiket terakhir ini saya mulai muak dan mengutarakan bahwa saya adalah “Memey”. Kenapa memey? Soalnya saya ambil dari “mai” dalam nama saya. Dengan demikian, barulah mereka menuliskannya dengan tepat, yaitu “Memey”.


Kejadian ini bukan sekali saya alami. Sering kali orang salah menuliskan nama saya. Pernah juga waktu SMP, kami akan pergi Study Tour dan harus daftar terlebih dahulu. Saya udah daftar waktu itu, tapi pas hari H-nya nama saya tak terdaftar. Hingga pada akhirnya ada pengumuman bahwa ada penumpang gelap. What? Penumpang gelap? Awalnya saya cuek aja dan gak ngerasa sama sekali, tapi saya mulai resah saat nama saya gak juga dipanggil-panggil. Trus ibu guru saya waktu SMP itu bilang: 

“Ada gak di SMP kita yang namanya –Na Mairisti-“
Semua orang pada ketawa ketika tersadar bahwa ternyata itu nama saya, jadi saya adalah penumpang gelapnya. Gile, saya tau saya item, tapi gak usah dibilang-bilang penumpang gelap juga kan? Ternyata ibu guru yang mencatat nama saya waktu itu tak sengaja menggabungkan huruf I dan V menjadi IV dan sekilas seperti N sehingga nama saya ditulis Na Mairisti.

Dari situ saya mulai sadar, apakah nama saya begitu susah untuk disebutkan dan dituliskan? Apakah saya harus ganti nama menjadi Putri atau Tukiyem atau mungkin Minah, atau mungkin juga Joko biar lebih mudah ditulis dan familiar didengar gitu? -____-‘

Tapi saya tetap bersyukur dan bangga, karena nama “Iva Mairisti” telah membuat saya mudah dikenal. Sejauh ini belum pernah saya menemukan nama orang lain yang sama persis dengan nama saya. Di searching di google dengan kata kunci “Iva Mairisti” pun, pasti didominasi oleh foto saya. Beda banget dengan orang yang namanya sama persis dengan nama artis atau bisa disebut pasaran. Dijamin dihalaman awal google gakkan ada fotonya *peace.

Sebuah nama memang sangat penting. Dari sana kita bisa menunjukkan identitas diri. Dari nama pula kita bisa memulai berkenalan. Tanpa nama, kita gak akan bisa sekolah. Tanpa nama, gak kan ada orang yang mau memanggil kita, karena gak tau mau manggil apa. Dan yang paling penting, tanpa nama kita gak bisa nikah. Emang mau jadi jomblo abadi hanya karena gak punya nama?

Jadi syukuri aja deh, dibalik sebuah nama pasti memiliki arti tertentu. Gak ada nama yang jelek atau nama yang bagus. Yang penting makna yang terkandung didalamnya itu loh. Gak usah minder kalau punya nama jadul. Toh, dari sanalah orang mulai mengenal kita. Ada yang punya cerita sama? Komen aja.!
Tidak punya blog? Mau Fiksi Mini, Cerpen, atau Puisi mu ada di Mungkin Blog?
Baca caranya DISINI :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...