Home » , » Acara Melayur Jalur Simpati Pulau Aro
Thursday, 20 February 2014

Acara Melayur Jalur Simpati Pulau Aro

Posted by Mungkin Blog on Thursday, 20 February 2014

Sebelumnya dulu saya sudah pernah menjelaskan tentang Event Nasional Pacu Jalur. Dimana event tersebut merupakan perlombaan perahu panjang (biasa disebut “jalur”) yang dilaksanakan di Sungai Kuantan (Kota Taluk Kuantan), Kab. Kuantan Singingi, Riau setiap tahun untuk memperingati HUT RI. Dimana jalur-jalur tersebut mewakili sebuah desa,  dusun, instansi, dinas, bahkan negara (Negara Malaysia dan Singapura pernah mengirim perwakilan). Namun, sebelum event tersebut dilaksanakan, ada berbagai macam rangkaian kegiatan yang harus dilakukan terutama membuat jalur. Tidak setiap tahun jalur dibuat baru. Untuk penjelasan selengkapnya tentang Pacu Jalur, bisa menuju postingan saya yang membahas Event Nasional Pacu Jalur.
Pada Jum’at, 14 Februari 2014, setelah maghrib sekitar pukul 19:30 WIB ada sebuah acara di Tanah Lapang Simpang Tigo Durian Jobar tepatnya Desa Pulau Aro, Kota Teluk Kuantan yang dinamakan Melayur Jalur. Acara dilakukan karena merupakan salah satu prosesi penting dalam pembuatan jalur. Melayur Jalur (dalam bahasa Taluk disebut “mendiang jalur”) merupakan salah satu persiapan dalam membuat jalur setelah pengambilan kayu dan pemahatan kayu. Melayur Jalur bisa dibahasakan lebih rinci sebagai pengasapan jalur. Jadi, kayu utuh dari sebuah pohon diasapi agar kayu jalur melebar, kuat dan ringan untuk dipacukan.
Setiap jalur memiliki nama. Untuk jalur yang dilayur pada malam hari itu diberi nama Simpati. Jalur ini nantinya akan dijadikan perwakilan Dusun Pulau-Pulau, Desa Pulau Aro, Teluk Kuantan dalam Event Nasional Pacu Jalur. Pada acara Melayur Jalur di Pulau Aro tersebut dihadiri oleh ratusan warga Kota Teluk Kuantan. Warga datang berbondong-bondong untuk menyaksikan prosesi jalur tersebut dilayur (diasapi). Ada yang membawa serta seluruh keluarga, ada yang bersama kekasih, ada yang bersama teman dan sepertinya tidak ada yang sendiri. Walaupun acara ini diadakan di Desa Pulau Aro, namun warga yang hadir dari berbagai desa di Kota Teluk Kuantan, diantaranya warga desa seberang taluk, koto taluk, luar irok, dan lainnya.  Obor bambu disulutkan ke sabut kelapa yang sudah diletakkan dibawah kayu jalur untuk pertama kalinya dilakukan oleh Bupati Kabupaten Kuantan Singingi, Riau yaitu Bapak H. Sukarmis. Tidak hanya dihadiri oleh bupati, event ini juga dihadiri oleh pejabat-pejabat lainnya. Dalam kehadirannya pada acara tersebut, bapak bupati dan beberapa petinggi menyumbangkan sejumlah dana untuk Jalur Simpati yang dilayur agar dilanjutkan pembuatannya hingga selesai dengan jumlah sekitar 110 juta rupiah. Woow banget :D

Selain proses Melayur Jalur, ada beberapa acara lainnya yang memeriahkan acara malam itu yaitu makan bersama dan hiburan kayat. Makanan yang dimakan bersama-sama merupakan hasil patungan warga. Setiap rumah patungan 5 makanan untuk mengisi bintang. Bintang merupakan tempat makanan yang berupa dulang yang ditutup dengan tudung. Makanan yang ada tentunya makanan khas daerah diantaranya onde-onde, lopek bugi, sang serabai, lomang panggang, bajik bekacau, pisang robui, dan lain sebagainya. Acara dihibur dengan kayat yang merupakan dendang atau nyanyian khas Kuantan Singingi untuk mengajak warga bernyanyi dan berjoget bersama-sama.
Hiburan Kayat
Acara malam itu berlangsung sangat meriah, hiburan berlanjut hingga larut malam. Sebagian masyarakat ada yang menyerah dan beranjak pulang. Namun ada pula yang larut dalam kegembiraan malam itu dengan bergoyang bersama. Asiiikk. Pulang kampung memang asyik, walau akhirnya harus kembali ke Kota Pekanbaru, Riau dengan disambut oleh Kabut Asap :(

Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

15 komentar:

  1. seperti lomba perahu gitu yaa?
    Kalo iya, di Jambi juga sering ngadain di sungai Batanghari.
    Tiap HUT RI dan HUT Jambi tentunya.

    Kenapa harus kabut asap?
    Sudah mendarah daging gitu ya di Riau dengan kabut asap.

    ReplyDelete
  2. Oh, aku baru tahu.. ternyat sampan yang biasanya untuk berlombaan itu namanya “pacu Jalur”.. proses pembuatannya disebut “melayur Jalur”.. wah-wah-wah.. keren banget nih yang namanya perlombaan jenis ini. Itu bahkan pernah di bahas makna filosofinya pas aku ikutan seminar talkshow..

    ReplyDelete
  3. keren, masih ada upacara adat kayak begini yaaa...jadi inget kampung aku..pakenya jga lampu dari api yg dari kain disulut dimasukin bambu itu khan??kangen kampung, vaaa...@.@

    kereeeen...

    ReplyDelete
  4. lampu dari api itu namanya obor klo di tempat saya sob :)

    ReplyDelete
  5. Sebuah acara yang unik, kayaknya emang khas riau banget ya va ?
    Soalnya aku baru 'menjumpai' nya di blogmu. Melayur jalur di sungai.
    Menyenangkan sekali iva bs melihat acara khas daerah seperti itu :-)
    Trus ada acara makan bersama, iva ikutan gk makan? Hehe menunya ala riau lg ya. Pingin deh nyicipin.

    Hiburan kayat, sepintas aku kira hiburan rakyat va :-D

    ReplyDelete
  6. Oi . . . Indu lo jo lomang panggang. . .
    hahaha

    ReplyDelete
  7. Wah kek perlombaan perahu gitu ya, asikk tuh.. Bisa ikutan. Haha... Disini gak ada lomba perahu. Soalnya sungainya gak gedee.. Kek di kalimantan. (.-.)

    makan2 gratis dong.. Hahaha nah! Itu puncak acaranya.. :))

    ReplyDelete
  8. Jalur itu semacam perahu yang panjang itukah? Sayang nggak ada fotonya, jadi nggak tau kayak gimana bentuknya hehe.

    Tapi bagus bagus masih ada upacara adat kayak gitu. Di kampungku udah jarang banget tuh ada upacara adat..

    ReplyDelete
  9. acara ini bener2 mengapresiasi para jomblo
    terbukti gak ada yang dateng sendiri :))
    hmm kalo disini sih budayanya kebanyakan budaya umat hindu jadi gue gak bisa ngerasain :|

    ReplyDelete
  10. Mahal amat? Sumbangannya aja 110juta, total biaya berapa tuh? Duit segitu kalo dibeliin tali layang-layang bisa nyampe pulau Jawa kali ya.. hehe

    Acara adatnya masih rame banget ya.. Tapi kasian yang jomblo. Mau dateng sendiri malu, kalo nggak dateng, sayang banget acaranya dilewatin gitu aja..

    ReplyDelete
  11. ditempatku sudah jarang perayaan adat yang keren begini.. kleniknya yang banyak ._.

    ReplyDelete
  12. wedew, bikin perahu aja ngabisin uang sampe 110 juta...
    emang kalo yang namanya adat ga bakal perhitungan, dan yg paling menarik bagi gue itu pas jalurnya diasapi :v

    ReplyDelete
  13. Wah acaranya keren tuh. Bisa untuk menarik wisatawan datang kesana. :)
    Tulisannya menarik, dengan beberapa kata yang mungkin bisa dihapus agar lebih bagus. Seperti: dan sepertinya tidak ada yang sendiri==> Kasian yang jomblo dan datang sendiri kesana, kesannya enggak dianggep. Hehehe. ^__^V

    Maaf baru BW, modem angot angotan:D

    ReplyDelete