Home » , , » Persetan dengan Cinta
Monday, 24 February 2014

Persetan dengan Cinta

Posted by Mungkin Blog on Monday, 24 February 2014

“Kita harus akhiri hubungan ini Mey! Kita sesuku! Semua orang pasti menentang kita, Ayah, Ibu, keluarga kamu, keluargaku, bahkan adat pun melarang hubungan kita.!”
Cairan bening perlahan mulai menetes dari ujung mataku saat kekasih yang sangat aku cintai akhirnya memilih mengakhiri hubungan terlarang yang kami jalani sekitar 6 bulan belakangan ini. Kekasihku itu bernama Juli. Walau kami tak dari keluarga yang sama, namun suku melayu kami sama. Ini yang dilarang keras oleh adat kampung kami Kota Teluk Kuantan, Kab. Kuantan Singingi, Riau. Suku 5 sikajuru, itulah suku melayu yang diturunkan dari ibuku dan ibunya. Hanya karena alasan suku kami sama dan tidak boleh melanggar adat, hubungan ini berakhir juga. 
“Tapi, aku cinta kamu!”, aku meronta tak menerima atas kenyataan yang telah ada.
“Udahlah Mey, besok aku ke Jogja. Aku pengen kuliah disana dan menghapus semua kenangan tentang kita.  Kamu jangan nangis lagi, kita hidup masing-masing ya. Aku gak mau keluargamu dan keluargaku bermasalah dengan adat”, ujarnya penuh kelembutan.
Bibirku serasa terkunci, tak bisa melontarkan sepatah katapun lagi. Aku hanya terdiam sambil menenangkan diri dalam tangisan dan pelukan seseorang yang sangat aku cintai. Perlahan pelukan itu melonggar dan ia pergi. Entah kemana. Seketika aku terhempas ke tanah, zahirku tak kuat menopang sakitnya perpisahan ini.

*SEBULAN KEMUDIAN*
Angin malam berhembus kencang membuat tubuhku sedikit kaku. Rambutku terurai dan terayun seirama dengan angin yang kian mendayu-dayu. Aroma air Sungai Kuantan terasa pekat memenuhi rongga dada. Di tepi Sungai Kuantan ini aku duduk sendiri diantara banyak orang yang juga ikut menikmati indahnya kemerlap malam di Kota Teluk Kuantan, kota kelahiranku. Malam ini sangat ramai, karena sudah banyak jalur yang tertambat diseberang sana. Esok pagi adalah hari pertama event nasional Festival Pacu Jalur di Sungai Kuantan. Cukup lama aku termangu menikmati keindahan ratusan lampu yang menerangi pulau diseberang sana. Hingga sesosok makhluk itu datang menghampiriku.
“Ngapain disini?”
“Ini, rencananya mau terjun ke Sungai, tapi masih ragu”, jawabku santai.
“Hahahaha kamu ada-ada aja”
Lelaki dengan postur tubuh cukup tinggi, kulit sawo matang dan mata yang sedikit sayu itu cekikikan mendengar pernyataanku barusan. Sementara aku tak begitu menghiraukan lelaki yang mencoba mendekatiku itu. Akupun tak merasa takut dan resah, mungkin karena pikiranku masih melayang dan tak karuan.
“Ikut aku yuk, kita ke pasar malam”, seru lelaki itu.
Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkah kakinya. Tanpa sadar aku telah berdiri tepat didepan bianglala yang ada di pasar malam.
“Yuk, kita naik ini. Nanti diatas sana kamu bisa liat Kota Teluk Kuantan dari atas! Mau teriak-teriak juga boleh”, lagi-lagi lelaki itu berceloteh mengajakku menaiki bianglala.
Seakan dihipnotis, aku mengikuti ajakannya. Seerrrrr, begitu aliran darahku saat ayunan ini berayun kencang ke bawah dan ke atas.
“Sekarang kamu teriak deh sekencang-kencangnya”, sama seperti tadi, lelaki ini masih saja menyuruhku melakukan yang tidak-tidak.
“Aaaaakkkkkkkkkkkk”, teriakku saat ayunan kami tepat berada dipuncak bianglala. Seakan ada sebongkah beban yang pecah bersama teriakan itu.
Satu, dua, tiga, bianglala terus berputar. Pikiranku semakin tenang dan kembali ke alam sadar.  
“Kamu kenal siapa aku?”, tanya lelaki itu. 
Aku terperangah. Benar saja, aku kini berada didekat lekaki yang sama sekali tak ku kenali. 
“Kamu siapa? kok aku bisa diatas sini sama kamu? Kamu  hipnotis aku ya?”, tukasku penuh kecemasan. “iihh, aneh. Baru nyadar sekarang. Aku gak hipnotis kamu kok. Mungkin nyawa kamu belum terkumpul, sampai-sampai gak sadar dan mau aja diajakin sama orang gak dikenal. Untung aja yang ngajak cowok ganteng dan baik kayak aku. Kalau sempat jelek dan jahat gimana hayoo.??”. Aku hanya tersenyum aneh.
“Kamu Mey kan? Aku Putra, kita satu Desa. Mungkin kamu gak tau aku karena kamu baru 2 tahun disini, tapi aku tau kamu kok”. Baru saja aku ternganga mendengar pernyataan lelaki itu, namun akhirnya tersadar karena bianglala yang membawa kami melayang telah berhenti. Sembari berjalan-jalan di pasar malam, aku mulai bertanya penuh rasa penasaran.
“Kamu? Kok kenal aku? Emang rumah kamu dimana? Kok bisa tau aku tadi di tepi Sungai? Kamu siapa sih sebenarnya?”, pertanyaan bertubu-tubi aku lontarkan untuk mengungkap siapa sebenarnya lelaki yang sedang bersamaku ini.
“Kamu cerewet banget sih. Banyak tanya ih. Oh iya kita kemana lagi?”, cetus Putra tanpa menjawab satupun pertanyaan dariku.
“iihh, sapa juga yang mau ikut sama kamu lagi. Aku mau pulang!”
“Jangan dulu deh, kita makan bakso diperempatan sana yuk. Aku yang traktir deh!”

Lagi-lagi wajahnya membawa sejuta ton keyakinan yang membuatku mau mengikuti setiap ajakannya. Belum lagi mental gratisanku keluar tanpa rasa malu. Kamipun berjalan menuju warung bakso yang tak jauh dari pasar malam.
“Ayo, dimakan baksonya!”, seru lelaki itu.
“Jawab dulu pertanyaan aku tadi”
“Kan tadi udah aku bilang, aku Putra dan kita satu Desa. Kan kamu sendiri yang bilang sama aku tadi kalau kamu di tepi Sungai.!”

Aku mulai memutar memoriku yang sedikit konslet. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelum aku duduk di tepi Sungai. Tttiing..!! Seolah ada sebuah lampu yang menyala di samping kepalaku. “Ooo jadi kamu yang sering nelpon-nelpon gak jelas beberapa minggu belakangan ini?”, aku sedikit berteriak.
“Sstt, nenek lampir jangan teriak-teriak gitu ngapa? Bikin malu ihh! Mau diletak dimana wajah ganteng aku?”.
“Apa?? Arrgghhh. Dasar kamu sok misterius”
, ucapku sedikit geram.
Sejak pertemuan itu, aku dan Putra mulai semakin dekat.  Putra bekerja sebagai pegawai disalah satu kantor kabupaten yang kebetulan ternyata adalah anak buah Pamanku. Aku semakin tahu semua seluk beluknya, begitupun dia terhadapku. Hingga suatu malam di bulan Oktober, 2 bulan setelah pertemuan itu. Tepatnya di balai-balai Taman Jalur, akhirnya permintaan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman terlontar dari mulutnya.
“Maukan jadi pacar aku?”, begitu tanya yang sederhana keluar dari rongga mulutnya.
Aku pun mengangguk lembut sambil tersenyum simpul melihat kelakuannya. Harus aku akui, dia adalah lelaki yang selalu saja berhasil menghipnotisku, sehingga aku terbawa ke dalam dunianya yang penuh kegilaan.
----
Hari-hari berlalu dengan indah, bersama cinta yang tiada satupun dapat melarang. Walau masih menjadi anak SMA yang tidak tahu sebenarnya arti cinta sejati. Aku coba untuk menikmati. Tiga, empat, lima, hingga sepuluh bulan telah berlalu, aku dan Putra masih bersama. Namun ada yang berbeda, seperti ada ikatan kali yang begitu kuat menahan gerak-gerik tubuhku.  
“Sayang, kamu udah makan belum? Sayang, kamu jangan main sama teman kamu terus dong! Sayang, kita malam ini jalan ya. Pokoknya harus mau..!!”
Setiap kali aku mendengar kalimat-kalimat itu, telingaku panas. Sikap Putra semakin possesif. Dia selalu mengaturku, menghipnotisku, dan memaksaku untuk mengikuti semua yang dia mau. Aku selalu terhipnotis dan aku sempat berpikir jangan-jangan dia muridnya Dedy Corbuzier. Aku muak dengan semua itu. Hingga suatu malam setelah kelulusanku dari SMA. Saat itu di kamar hanya ada satu lilin yang terletak diatas sebuah piring. Aku berbaring terlungkup melihat lilin itu yang semakin lama semakin cair. Aku membuka buku diaryku. Terpampang jelas tulisan curhatku ketika Juli meninggalkanku satu tahun yang lalu.
Pernah ada kita, saat malam menertawakan senja yang kian tenggelam atas kehadirannya. Pernah ada kita, saat lentera subuh bercahaya redup menyambut terbitnya sang fajar. Ya, ada kita sebelum cinta terbatas jarak serta dinding pemisah yang kita sebut adat istiadat. Ada kita sebelum aku dan kamu melepaskan peluk lara.
"Aku masih cinta", lirih ku sebut.
Tiba-tiba pyyuuuhhhhh angin malam mematikan satu-satunya cahaya yang ada dikamarku. Aku langsung terperanjat dan mencari-cari telepon genggamku untuk mendapatkan sedikit penerangan.
“Mana nih? Gelap banget, kayaknya tadi dibawah bantal deh”, aku mencoba meraba-raba tempat tidurku.
“Nah, ini dia”.
“Met malam Mey, besok pagi kamu ke Pekanbaru ya? Selamat ya atas kelulusan kamu. Semoga betah jadi anak kuliahan ya :D ~ Juli”
Aku terperanjat melihat pesan singkat dari telepon genggamku. Satu tahun telah berlalu. Tiba-tiba dia yang aku rindukan kembali menghubungiku. Entahlah, aku mencoba santai dan memejamkan mata. Aku ingin mempersiapkan segala tenaga tanpa gangguan, karena esok aku akan merantau untuk memulai perkuliahan di Kota Pekanbaru, Riau.
~~~
Pagi ini Kota Teluk Kuantan sedikit basah. Aku pamit kepada seluruh keluarga dan beberapa tetangga terdekat. Pagi ini aku akan berangkat menuju Kota Pekanbaru dan meninggalkan Kota kelahiranku, menuju perantauan untuk menuntut ilmu dibangku perkuliahan. Tiga setengah jam perjalanan ditemani pemandangan sawah dan perkebunan yang terbentang luas di sisi jalan. Aku terhanyut, tanpaku sadari yang kini ku lihat hanyalah gedung-gedung dan ruko-ruko serta udara yang sangat panas.
Inilah Kota Pekanbaru, Riau. Setibanya dikontrakan, aku mulai sibuk membereskan apa yang seharusnya dibereskan. Menuntut ilmu bukanlah hal yang main-main. Aku harus serius, agar kuliahku selesai tepat waktu dan membuat orang tuaku bangga.
Kring….kriiinggg…kriinnggg handphoneku berdering.
“Kamu udah sampai Nak? Ayah dan Ibu harap kamu serius belajar disana. Raih cita-cita dan semu impian kamu ya. Jangan macam-macam dan jaga kehormatan keluarga”
“Iya Bu. Ini udah sampai. Mey disini serius kuliah kok. Mey sayang Ayah, Ibu, Adik dan gak akan ngecewain kalian semua”
, aku menutup telepon.
    Hari-hari terus berlalu, aku masih menjalin asmara dengan Putra. Sesekali Putra sering menyusulku ke Kota Pekanbaru untuk melepas rindu. Tempat favorit kami adalah bertemu sambil makan Batagor di taman perumahanku. Namun, sejujurnya aku mulai jenuh. Long Distance Relationship bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani. Semakin hari aku merasa semakin diikat kuat oleh kekasihku sendiri. Aku mulai jenuh. Hingga suatu hari, handphoneku berdering, panggilan masuk dari kekasihku, Putra.
“Hallo sayang, kamu lagi apa? Dimana? Habis kuliah langsung pulang kerumah ya!”
“Iya”
, aku langsung mematikan panggilan itu dengan penuh emosi. Entahlah, semua seakan berubah. Aku sakit diikat terlalu kuat dalam hubungan ini.
“Maaf, aku gak bisa meneruskan hubungan ini lagi. Aku gak bisa kamu atur melulu, hubungan itu butuh kepercayaan. Gak mungkin aku selalu terikat dalam hipnotis cinta kamu. Maaf”
Itulah pesan singkat terakhir yang aku kirimkan untuk Putra. Handphoneku terus berdering pasca melayangnya pesan itu, Putra mencoba menghubungiku. Tapi aku merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku tak pernah mengangkat telepon itu lagi.
“Oke, kalau kamu gak mau ngangkat telepon aku. Sekarang juga aku ke Pekanbaru, temui aku di taman biasa jam 20:00 WIB. Itupun kalau kamu masih sayang aku”, begitulah bunyi sebuah pesan singkat dari Putra.
Tong…neengg.. sebuah pesan singkat lagi.
“Apa kabar Mey? Nanti malam ketemu yuk..!! ~ Juli”. Aku semakin panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku lemah. Untuknya rasa itu telah terkubur. Tetapi pancinglah walau sedikit, rasa itu akan seluas samudera lagi. Satu yang pasti, aku tak tau harus menemui siapa.
Hari mulai beranjak malam. Senja merekah dicakrawala menyongsong datangnya malam pekat yang penuh gemintang. Aku sendiri. Semua temanku sedang pergi memadu kasih bersama pasangannya. Aku hanya bisa mengurung diri di kamarku. Menghabiskan satu kotak tissue. Hanya bisa meluahkan isi perasaan dengan tangisan dan doa dihadapan Sang Pencipta. Memang hanya itu yang membuatku sedikit tenang dari dilemma. Aku tak beranjak dari sudut kamarku malam itu. Aku tak peduli dengan dua cinta yang aku miliki. Namun, aku mulai bertanya didalam hati. Apa yang salah dengan cinta? Tidakkah aku bisa merasakan cinta yang sempurna? Dimanakah harusku cari kebahagiaan dalam mencinta? Entahlah, aku memilih mundur dari semua percintaan ini. Biarlah suatu saat semesta yang akan menyeret sebagian hatiku ke peraduannya disini. Dihati, tubuh dan jiwa ini. Persetan dengan cinta.
 -----------------------------------
Cerpen kedua yang diposting di Mungkin Blog nih! Masih amburadul. Masalahnya gak jelas. Sebenarnya malu mau posting cerpen ini. Secara masih abal-abal begini. Tapi gak apa deh, minta kritik dan saran dulu :D

Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

3 komentar:

  1. Kalau coment, kritk/saran karya fiksi...nyerah duluan, lha saya juga abal-abal kalau nulis cerpen

    ReplyDelete
  2. Tiap paragraph dikasih spasi dong dik.... supaya nggak capek bacanya.
    Menurut saya cinta itu tentang perasaan ada adanya di hati, dan yang membolak balikkan hati adalah Alloh. So kalau mencintai karena Alloh, dijamin berkah dan tahan lama.

    Btw tema LBI duelnya yang mana?

    ReplyDelete
  3. pengalaman pribadi ya? Hihihi

    ku pengen ke kuansing..

    ReplyDelete