Home » , , » Cinta dan Harapan
Friday, 7 March 2014

Cinta dan Harapan

Posted by Mungkin Blog on Friday, 7 March 2014

Satu bulan telah berlalu, sebelum wanita itu memilih menjauh dari lelakinya. Katanya, wanita itu kini terbiasa. Terbiasa tanpa lelaki itu. “Untuk setiap pagi tanpa sapamu, untuk setiap malam tanpa dihiasi mimpi tentangmu. Aku sudah terbiasa!”, wanita itu berucap penuh yakin. “Munafik!”, hati kecil wanita itu menyangkal dengan pasti. “Aku benar telah melupakannya. Semula memang teramat menyinta, tapi sekarang aku lupa cara mencintainya walau aku tak pernah belajar cara membencinya”

Wanita itu memberi pembelaan terhadap dirinya. Perseteruan wanita dan hati kecilnya itu semakin memuncak. “Tidak, kamu tidak melupakannya, padaku kamu masih menyimpan segenap rasa untuknya, lelakimu itu!”, sangkal hati kecilnya. Wanita itu terdiam. Bagaimana bisa ia membohongi hati kecilnya sendiri? “Iya, aku memang cinta, air mata ini saksi cintaku padanya! Kau sudah puaskah?”, debat itu berakhir dengan keheningan memanjang.
Ting Tong..!! Begitulah dering pesan dari ponsel wanita itu.
“Benarkah kamu sudah melupakan kita?”, lelaki itu hadir kembali. Debar wanita itu terdengar  masih sama kala pertama bersua dengan lelaki itu. Memiliki lelakinya, wanita itu tersakiti. Tak memiliki lelakinya, wanita itu lebih tersakiti. “Bukan, aku tak melupakan. Aku hanya letih untuk semua pengabaian yang tanpa penjelasan. Aku lalu memilih diam dalam sesak penuh rindu”, wanita itu menjawab tanya si lelaki. “Ada apa dengan kamu?”, wanita itu gusar melihat sikap lelakinya. “Andai aku masih menggenggam tanganmu dan mendekap erat zahirmu, masihkah kamu akan meninggalkan aku?”, lelaki itu melontarkan tanya penuh pilu pada si wanita. “Tidak, seseorang akan bertahan apabila yang dipertahankan juga ikut mempertahankan!”, wanita itu menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
Lelaki itu hadir kembali membawa luka lama. “Aku tak akan meninggalkan jika sikapmu demikian”, lelaki itu melakukan pembelaan diri. “Lalu, untuk setiap salahku, pernahkah kamu coba untuk mengingatkan?”, terjadi debat pilu diantara mereka. “Sudah!”. Lalu wanita itu semakin terisak. Sebulan berlalu luka itu tergores kembali. “Untuk apa kamu hadir hanya untuk membawa luka? Tidakkah kamu tahu bahwa aku sangat tersakiti?”.”Tidak, aku lebih tersakiti!”. "Ah, sudahlah. Percuma kita memperdebatkan siapa yang lebih tersakiti. Dengan begini kita sama-sama semakin tersakiti". Wanita itu sedikit meredam emosinya, seketika beberapa kalimat kembali melayang. “Apakah kamu masih mencintaiku? Tidakkah ada harapan untuk bersama?”, tiba-tiba keberanian wanita itu memuncak. “Ada, tapi aku tak mungkin mencintaimu dalam sikap seburuk itu!”. “Salahku apa lagi? Jika memang tidak ada cinta, lalu mengapa ada harapan?”.

Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

1 komentar:

  1. harapan itu perlu. agar kita tetap hidup :)

    ReplyDelete