Home » , , » Pergilah!
Sunday, 22 June 2014

Pergilah!

Posted by Mungkin Blog on Sunday, 22 June 2014

Kala itu angin berdesir pelan menggetarkan beberapa helai rambut wanita yang sedang terisak dalam sesak yang luar biasa. Tiga menit yang lalu lelakinya berucap akan perpisahan, "Aku tak menyintai wanita sepertimu, wanita yang penuh dendam dan tak pernah mengerti akan diriku! Tak pantas untukku". Wanita itu bisa apa? Ia hanya terdiam dalam debar yang tak beraturan. Dalam hatinya ingin sekali menuturkan semua hal yang telah ia lakukan hanya demi lelakinya itu. Depa demi depa perjuangannya demi lelaki itu teringat jelas dalam benaknya. Namun wanita itu tak memberikan perlawanan seakan ikhlas menerima pernyataan lelakinya yang cukup egois dengan dirinya.

"Pergilah jika benar kamu tak menyintaiku lagi. Mungkin kamu sudah lupa bagaimana kita memulainya dengan sangat indah. Bagaimana aku mengulurkan tangan dengan ikhlas membantumu bangkit dari terpuruknya hati dan hidupmu. Sebenarnya aku hanya ingin kamu merasakan bagaimana aku merindukanmu saat kau jauh, bukan dendam karena ingin menyiksamu. Aku hanya ingin rindu mendekatkan hati kita", begitu kalimat yang terpendam jauh direlung hati dan pikiran wanita itu. Bibirnya terkunci, hanya bergetar namun tak berucap. Tak mungkin wanita itu mengungkit semua pengorbanannya. Lelaki itu berlalu, seketika tubuh wanita itu terpuruk diantara puing-puing cinta yang berserakan.
Waktu demi waktu berlalu, ikhlas ikhlas ikhlas. Hanya itu yang bisa dikuatkan oleh wanita patah hati itu. Betapa sulitnya ia menguatkan hati untuk tak jatuh cinta lagi. Lama waktu berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, membuat teguh hati wanita untuk tak lagi mengingat lelaki yang telah menyakiti hatinya. Yang ada kini hanya ruang hampa, kosong dan tak bernyawa. Berkali-kali lelaki lain mencoba untuk masuk dan mendobrak pintu yang dirantai kuat oleh pilu masa lalu. Tak ada yang bisa memasukinya. Memang tak ada yang mampu, tak ada yang mampu mengusik teguhnya hati wanita itu, kecuali seorang lelaki yang hadir dari masa lalunya. 
Lelaki yang pernah sangat dicintainya, namun takdir memisahkan mereka sebelum cinta terakui diantara mereka. "Mengapa kamu menangis sayang? Tenang-tenanglah disini sudah ada aku, aku takkan pergi meninggalkanmu lagi! Aku takkan menyakiti kamu seperti dia". Tubuh wanita itu jatuh dalam dekap penuh hangat dari lelaki dari masa lalu itu, kini lelaki itu adalah masa depannya. "Tidakkah kamu tahu bagaimana sulitnya hidupku sayang? Mengapa kamu datang begitu lama?", ucap wanita itu dengan nada suara yang manja. "Mungkin Tuhan hanya ingin mengajari kita arti cinta dan kehidupan sampai tiba saatnya kita dalam debar dan hela nafas yang sama", balas lelaki masa lalu itu. Tak lama hingga pelukan itu dipaksa terpisah oleh seuntai kalimat yang keluar dari mulut lelaki yang memutuskan wanita itu beberapa bulan yang lalu, "Hai wanitaku, aku masih mencintaimu! Beri aku kesempatan untuk memelukmu dalam tenang seperti ia memelukmu! Aku ingin selamanya bersamamu!".
Lelaki itu datang dengan penuh penyesalan. Jemari-jemari kecil wanita itu perlahan meraih tangan lelaki disampingnya, lelaki yang kini sangat dicintainya, lelaki masa lalu yang kini menjadi lelaki masa depannya. Tangannya mulai menggenggam semakin erat sembari berucap pada lelaki yang telah menyakitinya itu, "Maaf, cinta itu telah ku buang jauh di telaga pilu. Semudah itu kamu berkata cinta, bahkan jingga senja terasa kelabu saat kamu berlalu. Kamu tak tahu itu! Kini dengan mudah kamu ucapkan ingin bersama selamanya? Tidak, pergilah jauh dariku, bukankah kamu yang mengatakan aku tak pantas. Maka pergilah! Aku tak mencintaimu lagi, aku tidak pula membencimu. Pergilah sebelum rasa yang biasa ini menjadi akar dari rasa benci! Pergilah!", wanita itu terbakar amarahnya. Suasana semakin penuh emosi dengan debar-debar semakin tak beraturan. Kini yang ada hanya hening diantara suara hentakan langkah kaki yang terdengar menjauh, lelaki itu pergi dan wanita itu larut dengan tangis dalam dekap lelaki masa depannya.

Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment