Home » , , » Bernostalgia dengan Monopoli
Thursday, 27 November 2014

Bernostalgia dengan Monopoli

Posted by Mungkin Blog on Thursday, 27 November 2014

Masih pada ingat gak sih dengan permainan yang bernama Monopoli? Iya, Monopoli. Kalau zaman sekarang orang-orang lebih suka memainkannya secara online pada gadget mereka masing-masing, ituloh yang sering muncul di timeline Line kalian. Let's Get Rich. Bedanya LGR ini memainkannya kan secara online dan pastinya manusia-manusia yang main gak keliatan alias gak tatap muka secara langsung. Nah, kalau Monopoli mainnya harus bareng-bareng, ngumpul di suatu tempat. Buat yang masih belum paham apa itu Monopoli bisa baca penjelasannya.

Monopoli adalah salah satu permainan papan yang paling terkenal di dunia. Tujuan permainan ini adalah untuk menguasai semua petak di atas papan melalui pembelian, penyewaan dan pertukaran properti dalam sistem ekonomi yang disederhanakan. (Sumber: Wikipedia
Permainan monopoli ini dikemas dalam satu set. Didalamnya terdapat papan monopoli untuk bermain, pada papan tersebut terdapat petak-petak yang harus dilalui oleh orang-orang setiap pemain, selanjutnya ada juga orang-orangan, dadu, tempat dadu, uang, kartu-kartu tanah, dana umum dan kesempatan. Nantinya setiap pemain akan dibagikan uang sama banyak. Nah, penentuan pemenangnya nanti dari yang paling kaya. Para pemain akan bangkrut satu per satu.
Putaran pertama permainan paling menentukan siapa yang lebih dulu melewati start dan bisa membeli rumah lebih banyak pada putaran berikutnya. Saat itulah permainan semakin pecah, ada yang banyak punya rumah + hotel dan ada yang cuma punya beberapa. Hingga putaran-putaran selanjutnya ada yang selalu sial, masuk penjaralah, kena sewa di tanah oranglah, rumah oranglah, hotelnya lah. Paling kasian itu sama teman yang dari pertama main sampai terakhir gak pernah merasakan kemenangan sama sekali.  Pokoknya seru banget deh. Ketawa pasti udah lepas banget kalau ada yang kena di petak Afrika, apalagi kalau dibangun hotel dan punya satu kompleks dengan Australia. Waahh yang kena langsung bangkrut dah kena 200.000 dollar. Tapi sayangnya tanah paling murah itu ya Indonesia. Paling seru juga kalau ada pemain yang lupa kalau itu tanah atau petak milik dia. Temannya berhenti disana tapi tidak diminta sewa. 
Kami Generasi 90an
Berhubung main LGR udah menjadi hal yang biasa pada saat sekarang ini, maka saya dan teman-teman (masih teman kampus pastinya, walau udah wisuda tetap ngumpul) memutuskan untuk membeli Monopoli dan memainkannya. Setidaknya kita udah melakukan gerakan anti mainstream dan menunjukkan pada generasi muda kalau yang nyata lebih asik. Ahh, inilah nikmatnya jadi generasi 90an. Mainan jadul tau, mainan gadget-gadgetan, playstore-playstoran juga tau.
Doc. Pribadi
Bernostalgia dengan Monopoli
Kami biasanya main Monopoli ya di tempat biasa kami ngumpul, dimana lagi kalau bukan di kostnya Ika, Nelda dan Rini. Mereka tinggal satu rumah, sedangkan saya dan Wiwing terpisah hidupnya dari mereka. Iya mereka berempat teman seperjuangan saya semasa kuliah. Lalu ada juga sosok lelaki yang juga teman sekelas kuliah yang merangkap sebagai pacarnya Nelda, dialah Lutfhi.
Dari ke-5 teman saya tersebut yang nasibnya paling malang pertama kali adalah Rini, dia jarang banget menang, kesialan selalu menimpanya. Selanjutnya disusul oleh Ika yang juga sering sial, kemudian disusul lagi oleh Iva (saya sendiri). Nah, untuk Wiwing, Nelda dan Luthfi, mereka sangat sulit untuk dikalahkan. Apalagi Wiwing ituloh dia sering banget menang, sampai-sampai kesel dibuatnya. kalo Wiwing udah kena sewa di hotal orang pesti kena sorak. "Gasaakk laahh (artinya: rasain laah!!)". Kemudian 2 orang berikutnya adalah sepasang kekasih Nelda dan Luthfi. Entah bagaimana strategi mereka ini, selalu menjadi yang abadi dalam kebanyakan permainan. Pernah sekali saya hampir mengalahkan Nelda dengan jumlah uang hampir satu juta dollar dan akhirnya hilang dalam sekejap mata karena Perusahaan Air yang dimilikinya + kartu kesempatan dengan sewa 10x lipatnya. Dan uang 750.000 dollar pun melayang. Kan siaall!! Namun akhirnya tadi saya berhasil mengalahkannya dengan menguasai seluruh Perusahan dan satu kompleks tanah Jepang, India dan Korea dengan masing-masing dibangun hotel. 
Yeeee, tinggal 1 yang sulit dikalahkan, Luthfi! Ia adalah sesosok mengerikan yang pernah mengalahkan kami telak dengan jumlah uang lebih dari 2.000.000 dollar. Sebenarnya sih karena kartu bebas penajara. Kalian tahu sendiri kartu bebas penajara itu kan bisa dijual dan harganya selalu kami sepakati 300.000 dollar. Ya, gak heran kalau yang terus mendapatkannya akan banyak uang. Begini kronologisnya (yang main tinggal saya, Nelda dan Luthfi):
Luthfi: Yeee kau kena tu di Afrika, 200.000 sini!
Iva: Gak cukup, hutang ya 10.000!
Luthfi: Ya udah lah, lunas aja aku ikhlaskan
*dadu dilempar, muncul angka 3 + 3 = 6*
Luthfi: 1, 2, 3, 4, 5, 6. eeehh kok singgah di punya aku terus sih, malaslah, aku maunya ditempat kalian aja.
Iva dan Nelda: *keseeeelll*
*lanjut hingga ke Luthfi lagi*
*dadu dilempar, keluardadu jumlah 8*
Luthfi:  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8. Kena di rumah kau va, berapa?
Iva: 40.000
Luthfi: Cuma 40.000 gak ada yg lebih mahal?
Iva dan Nelda: KZL ZBL ARRGGHH
Kita tunggu saja tanggal mainnya ya hahaha.Ternyata bernostalgia dengan permainan zaman kecil dulu asyik juga, ada yang buat ketawa dan kesel + seru deh pokonya. Ketawa sama-sama, ekspresi keliatan langsung. Kalau online mah, orangnya disana kitanya disini, ketawa sendiri. Gak asyik ah, Hahaha *canda*


Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

3 komentar:

  1. Heihiehi jadi ingat waktu asyik main Monopoli eiheei Beli Hotel Beli rumah. Bayar Hipotek Sampai bangkrut nda bisa bayar hutang sampai masuk PENJARA Heihiehiehiheiheiheiee duh duh memori bangedsss

    ReplyDelete
  2. Sekarang posisi Monopoli udah digantiin sama game-game online. Lets Get Rich misalnya. Sekarang game ini udah jadi digital.

    ReplyDelete
  3. hahahaha...itu permainan yang fenomenal, serasa menjadi orang kaya, jika memenangkannya. Dulu lebih konyol lagi, karena kami bermain membuat aturan sendiri, yaitu diperbolehkan hutang terhadap bankirnya. Justru yang bermain menjadi Bank yang bankrut duluan.

    Sampai kini masih teringat hingga menghubungkan apa yang terjadi sekarang, dengan permainan monopoli sebagai gurauan. Misal ambil kartu antrian, lalu membacanya dengan keras apa yang tertulis di kartu antrian tersebut, dengan mengucapkan "maju sampai singaraja, jika melewati Start dapat 200"

    ReplyDelete