Home » » Berbeda, Bagi Orang yang Malas
Thursday, 1 October 2015

Berbeda, Bagi Orang yang Malas

Posted by Mungkin Blog on Thursday, 1 October 2015

Seringkali pelajaran matematika dijadikan sosok pelajaran yang sangat mengerikan. Padahal matematika akan selalu ditemukan dimana saja. Baik itu jurusan teknik mesin apalagi kedokteran. Sudah hampir satu tahun saya mengabdi sebagai seorang guru matematika, ya walaupun masih guru honorer saya bersyukur bisa mencapai cita-cita yang dari dulu sangat saa impikan. Entah kenapa matematika menjadi sangat menarik saat saya mulai memasuki sekolah menengah atas. Tak lain sekolah tempat saya belajar tersebut kini menjadi sekolah tempat saya mengabdi. Ada banyak kemudahan dan kesulitan selama kurun waktu tersebut. Namun kali ini saya akan mengutarakan tentang satu hal yang paling saya tidak suka dari murid-murid zaman sekarang, yaitu malas.

Tergugah dari upload foto di instagram sebagai berikut


Kerap kali usai saya menjelaskan konsep dari suatu materi matematika, ada siswa/i yang berkomentar seperti ini, nanti pasti soalnya gak sama, lebih sulit dari ini, matematika memang begitu. Nah, kalau sudah ada murid yang berkata demikian, terdengar samar-samar dari kejauhan di sudut kelas, seketika emosi saya akan segera naik. Kenapa?

Sebenarnya tugas guru hanya menjelaskan konsep dan membimbing siswa/i dalam belajar. Apabila yang aktif hanya guru dan siswa/i tidak mau aktif mengerjakan latihan maka tidak akan pernah bisa. Kalimat tersebut hanya akan terlontar dari mulut murid-murid yang malas. Kalau seandainya, contoh, soal dan ulangan soalnya sama semua (walaupun berbeda angka), itu sama saja kita hanya belajar itu-itu saja. Tidak paham konsep dan tidak bergerak maju. Jika siswa/i tersebut mampu memahami konsep yang dijelaskan guru, maka tidak akan terlontar kalimat demikian. Soal yang berbeda sekalipun akan tetap bisa dikerjakan. Tujuan ke sekolah pun bukan untuk malas-malasan. Jika tidak mau berpikir, akan lebih baik siswa/i tersebut berdiam diri di rumah. Tidak ada gunanya bersekolah jika hanya untuk datang, duduk, diam. Sekarang bukan zamannya lagi 3D. 

Jadi, saya termasuk salah satu yang tidak setuju dengan meme tersebut. Bukan tidak memiliki maksud guru itu memberikan soal yang berbeda. Tentunya untuk memancing siswa/i untuk dapat mengerjakan yang lain agar dapat bergerak maju. Tidak stay disitu-situ saja. Juga, sebenarnya bukan berbeda, melainkan lebih sulit sedikit dari yang dijelaskan. Sebagai guru saya berpikir, kalau siswa/i sudah paham konsep artinya dia pasti bisa mengerjakan soal tersebut. Nah, disanalah guru menilai kemampuan siswa/i. Ada yang bisa tanpa diberikan contoh lagi, maka itulah siswa/i yang diatas rata-rata. Oleh karena itu, untuk para pelajar diluar sana yang membaca artikel saya ini. Jangan buat matematika begitu mengerikan. Hilangkan hipnotis itu dari dirimu.

Thanks for reading & sharing Mungkin Blog

Previous
« Prev Post

1 komentar:

  1. Dulu waktu zaman sekolah pelaran Matematika paling ditakuiti..hiii

    ReplyDelete